KetikKetik, Sebuah Optimisme

fitur3

DIPERMULA keisengan seorang sahabat. Menenggerkan BBM di hapeku. “Ada blog Ketik-Ketik loh”, infonya. Belum terbalas, ia rentetkan lagi: “Kamu kan kuat nulis, nah cocok banget kamu nulis di Ketik-Ketik”. Lalu, ia bocorkan siapa punggawa KK (Ketik-Ketik). Terabsenlah satu per satu. Dan hatiku riang, sebab adminnya akrab denganku. Orang-orang baik inilah yang menghantarkanku ke sini.

Saya terbuka saja, puluhan blog, tawari aku, menulis di miliknya. Janji fee pun tak ketinggalan. Jawabku seragam: “Ia Bang, tapi saya gak janji”. Jujurku lagi, kubutuh juga uang, tapi dengan mematok hargaku, lahirlah barrier psikologik, di jiwaku. Maknanya, saya terbeli, tergadai. Walau kusadar, setiap insan adalah matre, tetapi tak semua materialistis.

Baca juga :  Jati Emas, Emas yang tak Laku

Diriku happy di sini, bersamamu: Baskoro (Kusuka kolom murninya), Kate (Kugemar filsafatnya), Kim Foeng (Kusuka aksara fiksi sederhananya), Doni Bastian (Jujur, aku pengagum puisinya), Suko Waspodo (Kuhobi artikel meweknya..hahaha), maaf menyebut langsung nama kalian, dan seterusnya.

Teranglah sudah, aku ke sini, bukan semata karena blog ini, tapi person-personnya. Persaudaraan di atas segalanya. Dan begitu optimisku, blog ini, perlahan akan menggeliat, menapak dan menapak asal didasari nawaitu yang super baik, kokoh dan berkawan ikhlas, berteman sabar, berselimut rendah hati.

Baca juga :  Musim Dingin di Perkemahan

Salam dari Makassar

Rate this post

Respon (16)

  1. wah.. namaku juga disebut sebut nih mas.. makasih apresiasinya mas armand. anda juga sangat produktip dalam menulis dan menarik untuk dibaca

    menulis terus dan terus menulis..

    salam

    1. Uhuy……….
      Insya Allah akan tetap menulis di sini
      Syaratnya: login lancaaaaaaaaaaaaaaar
      wkwkwkwkwkwkwk

  2. asyiiiikk.. punya mainan baru dan temen2 lama … 🙂
    ikut pak Dosen ah…

    tak tik tak tik tuk tik tik…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *