Harmoni Dalam Beragama : Pesan Damai Dari Indonesia

harmoni beragama
Pura Langgar, contoh simbolisasi harmoni keberagamaan di Indonesia. Sumber: bali.panduanwisata.com

Prolog

Beberapa tahun belakangan terjadi peningkatan serius kekerasan berlatar-belakang agama. Kasus terakhir adalah kekerasan atas nama agama yang terjadi dalam acara Kebaktian Rosario di rumah milik Julius felicianus di Perum YKPN Jogja. Kasus ini merupakan kekerasan atas nama agama yang kesekian kali terjadi di Indonesia.

Padahal, dalam tradisi kebudayaan Indonesia, toleransi dan saling menghargai pemeluk masing-masing agama merupakan praktik sosial yang sudah lama berurat akar. Sesanti yang terdapat dalam kitab Sutasoma “Bhineka Tunggal Ika Tana Hana Dharma Mangrwa” , beraneka ragam dalam satu tak ada kebenaran yang mendua, merupakan kredo toleransi yang menghendaki adanya harmoni dalam beragama di bumi Nusantara.

Dalam tulisan ini, saya akan menyajikan tiga contoh praktik toleransi beragama dalam kebudayaan Indonesia. Toleransi yang menghadirkan harmoni dalam beragama, jauh dari watak beringas penuh kekerasan. Semoga bermanfaat dan menginspirasi untuk merajut-kembali sikap beragama yang teduh, lemah-lembut, dan penuh kasih-sayang.

Pura Langgar, Pesan Harmoni Dari Bali

Di Desa Bunutin, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli terdapat sebuah Pura yang unik bernama Pura Dalem Jawa atau sering juga disebut dengan Pura Langgar. Pura ini unik karena merupakan simbolisasi dari adanya harmoni antara Islam dan Hindu di Bali.

Sesuai dengan namanya, Pura Langgar merujuk pada sebuah tempat ibadah orang Hindu, namun di dalam Pura itu terdapa bangunan segi empat mirip musholla atau langgar tempat ibadah umat Islam lengkap dengan tempat wudhunya. Artinya, di dalam Pura Langgar terdapat dua tempat ibadah sekaligus. Pura merupakan tempat ibadah umat Hindu dan Langgar adalah tempat ibadah umat Islam.

Uniknya, bangunan Langgar itu berada di tempat utama atau tempat tertinggi dalam Pura, orang Bali menyebutnya sebagai Utamaning Mandala, ruang utama atau ruang suci. Di dalam Pura ini, ritual upacara Galungan dilarang menyajikan hidangan makanan berbahan Babi atau daging Babi. Lauk yang disajikan adalah Itik dan Ayam. Seperti kita ketahui, Babi adalah daging yang diharamkan oleh pemeluk agama Islam. Babi hanya boleh dihidangkan di Pura Dalem tetapi tidak boleh dihidangkan di Bale Agung yang merupakan utamaning mandala itu. Lebih dari itu, berbeda dengan umumnya nama sesajen di kalangan orang Bali yang disebut Banten, di Pura Langgar sesajen disebut dengan nama Selam, yang berarti Islam dalam logat orang Bali.

Dalam folklore masyarakat setempat, Pura Langgar berdiri atas “wangsit” yang diterima oleh Ida I Dewa Mas Bunutin melalui Yoga Samadhi. Yoga Samadhi ini dilakukan untuk mendapat petunjuk dari Sang Hyang mengenai penyakit yang diderita sang kakak, Ida I Dewa Mas Blambangan yang sekaligus merupakan Raja Bunutin yang baru. Sang kakak sakit dan tak kunjung sembuh. Melalui Yoga Samadhi itu, Mas Bunutin memohon pretunjuk pada Sang Hyang untuk kesembuhan kakaknya.

Kemudian, terdengarlah suara yang bertutur: “Wahai Mas Blambangan, Mas Bunutin dan semua yang ada. Aku Dewaning Selam yang bernama Tuhan Allah. Aku minta supaya dibuatkan pelinggih Langgar tempatmu sembahyang kepada-Ku. Jika tidak, terus-menerus secara turun-temurun keluargamu akan menderita sakit berat, meski tidak mati”. Dari wangsit inilah, dibangunlah pelinggih berbentuk Langgar di Mrajan Agung, bangunan Pura yang sudah ada sebelumnya. Pelinggih Langgar ini dibangun sebagai bentuk bhakti pada Kawitan. Dan, sesudah dibangunnya Langgar itu, sang kakak, Ida I Dewa Mas Blambangan sembuh dari sakit.

Bukit Kasih Kanonang

Monumen tentang harmoni dalam beragama juga ada di Minahasa, tepatnya di Desa Kanonang. Di desa ini, terdapat sebuah bukit yang diberi nama Bukit Kasih yang merupakan nama pemberian dari mantan Gubernur Sulawesi Utara, Drs. A.J. Sondakh. Di beri nama Bukit Kasih karena di atas bukit ini dibangin sebuah tugu setinggi 25 meter yang di masing-masing sisi tugu terdapat symbol agama-agama yang ada di Indonesia, yakni: Kristen, Katolik, Islam, Budha dan Hindu. Tugu ini disebut sebagai Tugu toleransi yang merefleksikan dari sikap toleransi beragama masyarakat Minahasa dan masyaraka Sulawesi Utara pada umumnya.

Di samping itu, di sekitar area Bukit Kasih ini juga terdapat lima tempat ibadah dari masing-masing agama tersebut. Gereja, Masjid, Pura, dan Wihara di bangun secara berdampingan. Simbolisasi ini merujuk pada kultur masyarakat Minahasa yang mempunyai semboyan “torang semua ba’saudara”. Agama boleh berbeda tetapi sebagai sesame orang Minahasa yang berasal dari nenek moyang yang sama harus tetap bersaudara. Oleh karena itu, adalah wajar jika dalam kegiatan-kegiatan keagamaan di Minahasa selalu terjaga harmoni. Masjid, misalnya, tak akan menyetel suara keras-keras melalui loudspeaker kecuali hanya untuk kepentingan Adzan. Oleh karena itu, adalah lumrah ditemui tempat-tempat ibadah beda agama dibangun berdampingan di Manado,Minahasa atau kota-kota lain Sulawesi Utara. Singkat kata, Bukit Kasih dan Tugu toleransi merupakan bukti bahwa beragama tanpa kekerasan hadir di Indonesia.

Pesan Harmoni Dari Sunan Kudus

Pada suatu hari, beberapa Pendeta Hindu protes pada Sunan Kudus (Syaikh Ja’far Shodiq). Para Pendeta Hindu itu protes karena setiap hari raya Kurban atau Idul Adha, umat Islam selalu menyembelih Sapi. Padahal, bagi umat Hindu, Sapi adalah binatang suci yang tidak boleh disembelih dan dimakan karena mempunyai keterkaitan dengan Dewa Krisna. Mendengar protes dari para pendeta Hindu itu, Sunan Kudus tidak marah-marah atau mengkafir-kafirkan. Sunan Kudus memilih untuk meluluskan permintaan para pendeta itu.

Sunan Kudus mengakomodasi permintaan para pendeta Hindu dengan cara menambatkan Sapi di depan Masjid Menara Kudus . Kemudian, berbondong-bondonglah orang melihat apa yang dilakukan oleh Sunan Kudus. Di depan orang banyak, Sunan Kudus bertutur : “suatu ketika, saat masih kecil, aku pernah sangat kehausan sampai hampir mati. Tiba-tiba ada seekor Sapi yang menolong dengan memberi air susu kepadanya. Oleh karena itu, sejak hari ini aku melarang penyembelihan Sapi”

Sejak saat itu, setiap acara keagamaan seperti aqiqah atau Idul Adha yang disembelih adalah Kambing dan Kerbau, bukan Sapi. Bahkan, ritual tidak menyembelih Sapi ini masih tetap terjaga sampai sekarang di Kota Kudus, meskipun sebagian besar masyarakat Kudus sudah beragama Islam. Dari Sunan Kudus kita belajar – sekali lagi – bahwa harmoni dalam beragama telah hadir di Indonesia cukup lama.

Epilog

Indonesia adalah bangsa yang berwatak internasional. Ada banyak ragam perbedaan dalam keinternasionalan itu, termasuk perbedaan dalam beragama dan menghayati kepercayaan. Tuntutan kebajikan publik dalam merespon ragam perbedaan dalam beragama adalah dengan saling menghargai dan member toleransi. Toleransi bukan berarti mencampur-adukkan masing-masing agama, tetapi memberi ruang masing-masing pemeluk agama untuk beribadah dan menghayati keagamaannya.

Tiga contoh di atas memberi bukti bahwa pesan harmoni dan toleransi beragama telah hadir cukup lama di Indonesia.Lebih dari itu, tiga contoh di atas hanyalah sedikit dari banyak contoh praktik sosial toleransi beragama di Indonesia. Dan, kita mempunyai tanggung-jawab besar untuk merawat harmoni dalam beragama itu. Bukankah, setiap agama mengajarkan kasih-sayang, cinta, dan rasa hormat kepada setiap manusia. Tidak ada satupun agama yang mengajarkan kebencian pada makhluk.

Penulis : Haris el Mahdi

Buku Tentang Cara Memelihara Ikan Koi

Leave a Reply

Your email address will not be published.