Tobat

energy com
energy com

ADOH, mendengar kata tobat saja, kita tercengang. Batin tersirami. junjung harapan, lebih baik. Hidup flash-back. Cinta diri terengkuh. Tanda itu, manusia kembali jadi manusia, sesungguhnya. orang menyebutnya: Titik Balik. Siapapun itu, berhak punya titik balik. Tobat buah dari kembalinya manusia pada tempat pemberangkatan awal, usai melakoni terminal-terminal kehidupan. Tobat diharfiahkan, tak mengulang lagi koleksi-koleksi khilaf. Itulah manusia. Tobat, peruntukkannya untuk Tuhan, pun untuk manusia itu sendiri.

Tobat itu berkelas-kelas: Nasuha dan Temporer. Keduanya disebut tobat. Tobat kedua adalah tobat mengolok-olok Tuhan. Bermain-main dengan tobat. Tuhan akan marah dengan cara tobat ini. Persis seseorang minta maaf berulang-ulang dengan tindakan salah yang berkali-kali juga, pola yang sama. Ini disebut trend atau kecenderungan. Ini juga disebut merancang kesalahan untuk mendesign kata maaf lagi.

Baca juga :  Survei-surveian, Cabe-cabean

Tobat selanjutnya adalah tobat kepada yang bukan Tuhan, tobat ke sesama manusia. Dan seorang suami tobat-tobat atas ulah istrinya, tobat-tobat lihat keranjang belanjanya, tobat-tobat saksikan luapan emosinya, tobat-tobat amati dandanannya yang lebih banyak berdandan untuk keperluan di rumah. Suami tobat-tobat bau minyak gosok, balsem, puyer-puyer ketika di rumah.

Istri tobat-tobat lihat suaminya yang bangga akan cerita besarnya di balik kantornya, kisah heroik di balik keahliannya memperbaiki onderdil mobil, tobat-tobat liat suaminya yang hanya memanggil istrinya ketika penting. Rasanya kita memang sudah banyak bertobat-tobat atas ulah manusia. Sedang kita bertobat kepada Tuhan, bukan karena ulah Tuhan. Lalu, kita bertobat karena tingkah siapa? Tingkah Tuhan? Manusia lain? Atau diri sendiri? Mesti didefenisikan ulang cara bertobat kita. Termasuk tobatnya rakyat terhadap ulah presiden, legislator, gubernur, ¬†bupati sampai lurah. Dan berkatalah saya: “Kok kita ini tiada tobat-tobat milih-milih mereka. It’s our problem. You know…!”

4.5/5 - (4 votes)

Respon (5)

  1. Bro gimana mau tobat kalau saya gak pernah milih? Bukannya gak mau milih, cuma bingung gak ada yang kenal sih

  2. Tulisan yang bermanfaat pak Dosen. Orang biasanya menunda tobat. Menunggu hingga saat akhir. Padahal kita tidak tahu,kapan saat itu tiba..Mengapa bertobat harus di tunda> ? terima kasih dan salam hangat yang tidak menghanguskan my brother Armand

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *