Polisi Kok Ikut Ujian Nasional

unas

KHAWATIRNYA polisi ini, cemas pasca Ujian Nasional, siswa-siswa balapan, ngebut, raungkan kanlpot, buka baju, teriak-teriak, kuasai jalan raya. Esais ini usulkan agar nanti kalau anak-anak pulang dari ajang Ujian Nasional, yah ditemanilah satu-dua polisi dan dua tiga guru, plus kepala sekolah. Antarlah anak-anak kita itu setelah berjuang keras menjinakkan stres selama ujian ini, kataku penuh solusi. Dan hanya manusia yang tak edukatif, yang tak paham apa maksudku itu.

Boleh jadi anak-anak itu lakukan segala atraksi psikologis di jalan raya akibat tekanan batin luar biasa selama ujian berlangsung. Tiga masa stres yang siswa-siswa alami: pra UN, UN dan pasca UN, selorohku di hadapan kepala sekolah, kepolisian dan seorang babinsa (yang kali ini turut mengawas). Ditimpali seorang guru: “Kita juga sebagai guru stres pak, kita bisa dipindahkan dari SMK ini kalau nantinya banyak siswa tidak lulus di UN ini”.

Baca juga :  Bercinta di Thailand

Ini sebuag fakta juga yang tak edukatif, seolah UN itu sebagai ajang pecat-memecat atas sebuah kegagalan, jangan sampai di tempat baru Sang Guru, dipecat lagi karena di sana, siswa juga banyak gagal, dan akhirnya ada guru dimutasi tiada henti. Ya mbok, jangan salahkan seorang guru saja, seorang siswapun turut andil. Hemmmm, takutnya ada orang tua dipecat dari kerumahtanggaannya karena putra0putrinya gagal Ujian Nasional.

Lha, bapak ini, polisi kan ikut ujian nasional. Dia heran, dan kepala sekolah itu berujar: Bukankah dengan tingkah anak-anak kita, kita benar-benar diuji demi sebuah pendidikan? Bukankah pendidikan itu memperbaiki yang dianggap belum bagus, semi rusak dan pra sempurna?

Baca juga :  Charge Standar Internasional

Polisi itu diam, sembari tersenyum.

3.5/5 - (2 votes)

Respon (3)

  1. Ya ada persepsi yang salah ya soal ujian ini yang malah menjadi ajang stres bukan ajang menunjukkan prestasi dengan suka cita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *