Berhentilah Berdoa untuk Palestina !

Bayi Palestina

Sudah berpuluh tahun lamanya Israel menjajah tanah Palestina.

Sudah berjuta nyawa rakyat Palestina yang dikirim tentara Israel ke akhirat.

Lewat pembunuhan biadab, genosida, penyiksaan berkepanjangan, bom fosfor, bom curah dan berbagai cara tak berperi kemanusiaan lainnya.

Timbunan mayat para wanita dan bayi tak berdosa, terhampar sepanjang perjalanan sejarah kelam bangsa ini. Bukit tengkorak manusia itu bagaikan sebuah tugu kemenangan buat bangsa Israel. Kekejaman mereka makin menjadi-jadi, karena selalu didukung oleh Amerika, Inggris dan sekutu lainnya. Ditambah ketidak pedulian negara Arab tetangganya, lengkaplah sudah kesialan bangsa Palestina di muka bumi ini.

Tak perlu menyebutkan apakah yang terjadi di Palestina adalah konflik agama atau bukan. Pembunuhan biadab tetap pembunuhan biadab. Dan tak boleh ada pembenaran untuk itu.

Sebagai sesama manusia, kita seyogyanya melakukan sesuatu untuk membantu meringankan penderitaan rakyat Palestina.

Baca juga :  [OPINI] Indonesia Baru dengan Wajah Baru

Kita harus terus mendesak pemerintah kita untuk beraksi nyata, bukan hanya sekedar mengeluarkan pernyataan-pernyataan, karena sebagian besar pernyataan politik pemerintah kita itu cuma akan diangap angin lalu oleh pihak penjajah.

Contoh nyata sudah dilakukan oleh Bulan Sabit Merah Indonesia, bekerjasama dengan Telkomsel, Indosat, Flexi dan Esia, ketika membangun Rumah Sakit Indonesia di Palestina. Dulu, lewat program sms donasi, kita dengan mudah bisa menyumbangkan uang guna membantu pembangunan RS itu.

Kabarnya sekarang RS itu sudah selesai dan sudah diserahterimakan kepada otoritas setempat.

Jika kita ada memiliki keterampilan yang bisa berguna buat rakyat Palestina, mungkin bisa juga kita terjun langsung ke sana. Namun hal itu harus dilakukan dengan persiapan yang matang, sebab kalau tidak, bisa-bisa kita malah mati konyol di sana.

Orang-orang Palestina sangat menghormati orang-orang Indonesia. Kita sudah dianggap sebagai saudara sendiri di sana. Namun suasana konflik yang tak menentu, membuat kita tidak mudah untuk bisa terjun langsung membantu di lapangan. Apalagi bila kita bermimpi, bisa menjadi bagian dari barisan pejuang Fatah atau Hamas, misalnya.

Baca juga :  [Opini] Bukan Janji Yang Kami Butuhkan

Sekedar untuk diketahui, sebagian faksi pejuang di sana mensyaratkan calon pejuangnya harus hafiz qur’an 30 juz.

Selain itu, kita juga bisa menulis di media, artikel dukungan dan seruan untuk membantu rakyat Palestina. Ribuan tulisan-tulisan kita mungkin akan mampu menghidupkan kembali rasa empati rakyat Indonesia, yang pada gilirannya mereka juga akan rela menyumbangkan sesuatu yang berguna.

***

Berhentilah berdoa untuk Palestina, doa sudah terlalu banyak.

Kirimkan saja kami uang, obat-obatan, senjata, peluru dan mesiu.

(Rafiq Hariri, sub komandan pejuang Hamas di Gaza).

 

foto : http://diponegorotatank.wordpress.com/2012/11/20/

Rate this post

Respon (1)

  1. Iya bang Pilot, saya tertarik dengan rumah sakit Indonesia yang ada di Palestina sana, tapi soal doa menurut saya tetap di butuhkan, kalau senjata dan mesiu, apa masih perlu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *