Pasir Hisap Pergaulan

ladies
foto: trendland.com

Saat remaja, kita pasti mudah terpengaruh pertemanan benar tidak? Teman memakai sepatu merk anu dan baju merk anu, kita lalu kepengen meniru. kemudian mengadulah kita kepada ayah dan ibu, “Saya dibelikan pakaian dan sepatu anu dong, malu kalau ketinggalan mode. Mosok saya paling jadul gaya penampilannya?” Setelah dewasa, rekan sekerja punya iphone, sementara kita masih pakai esia, Saat sama – sama mengeluarkan handphone ada rasa mengendap. Duh, kok hape saya jadul sendiri? Paiiiiitttt,….

Sedikit banyak teman dan lingkungan pergaulan sangat mempengaruhi diri kita. Banyak sekali orang yang kita anggap ‘teman’ sebenarnya bukan teman yang baik. Ya, tentu ada teman – teman yang tidak baik! Masakan semua teman baik? Pasti ada yang tidak baik. Yang mengajak kita menggunakan narkoba, mengajak kita mencuri, mengajak tawuran, mengajak korupsi dan sebagainya. Awalnya kita ragu, lama – lama terpengaruh. Semua orang menggunakan narkoba, mencuri kecil – kecilan nggak akan ketahuan, tawuran itu seru, kalo engga korupsi kapan kayanya kita? Akhirnya semua norma tumbang dan kita terjerumus.

Memilih teman perlu kok! Sungguh! Saya selalu menerima berteman dengan siapa saja dan seperti yang saya katakan tidak menempatkan pikiran buruk kepada orang lain. Tetapi pada akhirnya, mereka yang berlaku baik akan tetap baik, sedangkan yang punya niat buruk akan terbuka kedoknya. Orang – orang yang mengaku teman, namun memiliki ‘agenda’ suatu saat akan kita sadari bahwa mereka bukan teman yang sesungguhnya. Mereka hanya orang – orang yang membawa kesengsaraan di kehidupan. Bahkan banyak sekali kelompok pertemanan yang berdasarkan status. Pernah suatu siang ketika saya liwat, disebuah cafe mewah ada sekitar sepuluh wanita dengan tas branded, rambut sasakan salon warna blonde – burgundy, bulu mata palsu menjulang dan busana ekslusif, sedang duduk bersama. Apalagi jika bukan acara arisan ibu – ibu borjuius? He-he,… Again tidak ingin nge-judge tetapi otak membawa pikiran pada persepsi akhirnya sendiri. Maaf ya?….

Ketika terjebak pada pasir hisap pergaulan, kadang kita seolah diubah menjadi kuda pacu. Saling berbalap. Semua rekan kita menetap di perumahan cluster eksklusif kok saya masih menetap di perumahan rakyat RS? Semua teman saya mengenakan busana keluaran desainer kok saya masih pakai baju pasar pagi? Semua teman saya mengenakan parfum asli kok saya masih pakai parfum palsu? Waduh, akibatnya apa saja yang ada didepan mata, masih kurang dan lupa bersyukur! Oya, saya pernah malu karena saya menggunakan tas jelek warna ungu norak tanpa merk dan teman – teman saya muncul mengenakan tas LV asli atau Brown Buffel asli. Bahkan ada teman saya yang bisa “mengendus” tas! This is true! Dia akan berkata, “Jo, lihat kanan. Ibu yang disamping elo itu harga tasnya delapan ratus ribu! Gue tau dari katalog!” Bwekekekeks,… Duille.

Hari ini saya bersyukur banget. Rata – rata tas saya merk Elle, asli. Bukannya mau nyombong dan bukannya mau pamer atau mau saingan dengan ibu – ibu borju. Tapi mau bersyukur, bahwa kini saya beli tas bukan karena mau saingan dengan yang lain, bukan karena mau tampil mahal – mahalan atau gaya – gayaan. Tapi karena Elle modelnya sederhana, kuat dan……sering diskon! Makanya kadang beli ketika sedang ada diskon! Saya sudah melepaskan diri dari pasir hisap pergaulan saya. Kadang sedih, karena mereka masih mengajak kumpul, jalan atau hal – hal lain. BUT, I CAN’T. Saya ingin merubah diri saya, tidak lagi fokus kepada hal – hal yang menyilaukan mata. Saya ingin fokus kepada hal – hal yang jauh lebih indah dari itu.

Buku Tentang Cara Memelihara Ikan Koi

2 Komen

  1. katedrarajawen

    Saya ikutan Ci Jo aja deh agar gak terhisap, dulu waktu masih muda, sering ditawari obat terlarang,minuman keras dan rokok, bersyukur masih berani menolak hehhe..gak terhisap

    • mm
      josephinewinda

      ya kalau masih remaja kadang dinasihati ortu pilih teman yg baik, kalo sudah gaek seharusnya bisa melihat sendiri,.. siapa dan yang mana…

Leave a Reply

Your email address will not be published.