Belajar Dari Anak

kids teach
foto: www.learnvest.com

Tadi kami pergi beribadah. Di dalam tempat ibadah, sepasang sejoli yang duduk di depan kami terus berangkulan sepanjang perayaan. Sebenarnya berangkulan dengan pasangan, dengan tetangga, dengan kucing atau dengan apapun itu hak masing – masing orang. Tetapi ketika di dalam tempat ibadah ada sepasang sejoli yang terus rangkulan dari awal hingga akhir, saling menggenggam tangan, rasanya kok mengganggu pemandangan saya.  Apalagi ini didepan mata? Sirik? Mungkin ya! 😆  Apa tidak bisa hening sejenak dan khusyuk masing – masing dulu dalam perayaan menghadap Tuhan? Ini mengingatkan saya pada kisah orang yang telah punya anak (baca : punya anak seriuslah!) justru mengacuhkan anak – anaknya demi ibadah. Kalau ini sebaliknya sedang hangat – hangatnya, lalu mementingkan kemesraan daripada beribadah?? Whedewww…

Tapi intinya bukan masalah saya sirik atau tidak. Saya lalu mulai memainkan peran orang baik dan sok alim. Sebel melihatnya (ya, mungkin sirik juga! Ketawa aja deh,..   😀   ). Kenapa tidak dapat menahan diri dan di tempat umum serta perayaan ibadah begitu kok kesannya ‘asyik masyuk’ (istilah jadoel). Saya lalu kasak – kusuk bergossip dengan putri saya, “Pssst… Lola, itu orang – orang yang duduk di depan kita kok lebay banget ya! Lihat deh rangkulan terus, tangannya dipegangin terus,” (dengan suara ibu tiri Cinderella). Putri saya melirik sepintas, melihat dan belajar tidak menghakimi. Dengan cepat ia menjawab, “Nggak tahu ya, Mami!…” Sama sekali tidak terlintas dalam benaknya untuk menuduh kedua orang itu berlaku tak pantas di rumah peribadatan. Pandangannya lurus dan datar, sama sekali tidak terpengaruh dengan hasutan saya. Saya masih ngotot, “Itu lho, … kedua orang yang di depan ini!” Lagi – lagi putri saya mengangguk dan menjawab, “Iyaaa,…aku nggak tahu!”

Saya jadi teringat, bahwa saya juga pernah menuliskan tentang menilai tanpa menghakimi. Ternyata sulit ya! Ketika dihadapkan pada realita yang ada didepan mata, cepat sekali saya memutuskan untuk menghakimi. Lebih parah, ini berdasarkan dalil ibadah, seolah menempatkan saya lebih alim dari pada ‘para tertuduh’. Padahal saya sendiri di dalam rumah ibadah menggosip dan menghasut putri saya untuk menyangka yang tidak – tidak kepada orang lain! Gulps! 😳  He-he-he,… Lalu saya amati lagi, tampaknya si wanita kurang sehat karena dibawakan banyak kain dan selendang oleh si lelaki. Mungkin sakit sedikit demam atau bisa jadi kedinginan dan nyaris flu, karena mereka berdua memang duduk tepat di depan AC. OLALA!

Maka saya jadi malu dan enggan pada diri saya sendiri. Ternyata sudah berjanji dan wanti – wanti ingin menjadi orang yang lebih baik. Masih saja tersisa sifat yang penuh curiga dan mudah menghakimi orang lain, seolah – olah saya lebih baik! Setidaknya saya lega, bahwa putri saya memiliki sifat yang memang lebih baik dari saya. Dengan tidak mudah melihat, menilai, menghakimi dan langsung menuduh. Memangnya kita siapa? Tuhan saja mencintai orang yang paling nista, kok kita kadang berperan sok lebih mulia? Makasih, Nak!

Buku Tentang Cara Memelihara Ikan Koi

6 Komen

  1. Muhammad Armand

    hahahaha
    Berangkulan ame kucing plus kambing emang hak setiap orang kok 😀

  2. Anita Godjali

    Bedanya yang sudah terkontaminasi dan yang masih murni Jeng Winda. Prasangka negatif lebih didahulukan daripada prasangka positifhttps://blograkyat.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif

  3. Nah,… makanya belajar sama anak kecil. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.