Nikah Gethok Tular

kawin ceraiSaya kadang bingung baca berita, orang kok kawin cerai kaya ganti kaus kaki. Khususnya kalangan selebritis. Saya berpikir terbalik, apakah tidak sebaiknya yang diberitakan yang masih bertahan dalam pernikahan? Tadi baru baca berita artis anu nikah lagi dengan wanita baru yang lebih muda dan kinyis – kinyis. Semuanya mengaku sudah jalannya nasib, kisah kehidupan, takdir dan seterusnya. Herannya antara pasangan satu dan yang lain, kisah sebab musabab perpisahannya mirip – mirip. Setali tiga uang. Ada yang selingkuh. Ada yang jaminan hartanya kurang nggak nyampe tujuh turunan – baru tiga turunan saja. Ada yang beda prinsip (mungkin yang satu pancasilais lainnya paham komunis?). Ya pokoknya aneka warna, yang penting punya alasan pribadi masing – masing. Tapi semua menuruti kata hati: nggak cocok. Lha? Kok dulu bisa kepincut? 

Berita yang tadi saya baca juga sedikit mengganggu saya. Jadi si istri itu dulu artis cantik yang sering wara – wiri di TV. Saya sering melihat wajahnya. Nikah, nggak lama cerai dengan satu atau dua anak (saya lupa). Kemudian nikah lagi dengan bujangan, muda kinyis – kinyis dan punya anak lagi. Lalu nggak lama kemudian ada berita mereka sudah berpisah dan bercerai lagi. Kemudian si duda kinyis – kinyis sekarang menikah lagi dengan gadis muda yang lebih kinyis. Sementara istrinya menjanda lagi hingga yang kedua kali. Ini kok kayak saling menularkan pernikahan, masing score sama : dua lawan dua. Entah jika sang mantan istri menikah lagi. Mungkin score terkejar dua lawan tiga.

Kalau kita perhatikan ombak dipantai. Ia selalu menerpa ke depan menuju pada lautan lepas lalu kembali lagi untuk menampar tepian pantai. Yang namanya ombak, selalu demikian arah pergerakannya. Belum pernah ada kelainan dalam pengamatan tentang pergerakan ombak, terkecuali potensi tsunami. Apakah tsunami sering terjadi? Saya rasa tidak. Tsunami adalah kejadian fenomena alam yang luar biasa. Ombaknya surut jauh hingga ke depan lalu menjulang sangat tinggi menghantam ke daratan. Setiap kehidupan yang kita jalani adalah pergerakan ombak. Ada pasang – surutnya. Tetapi pergerakannya akan selalu sama, maju dan mundur. Kadang seorang suami menjengkelkan. Kadang seorang istri menyebalkan. Mengikuti harmonisasi ombak seharusnya maju mundur. Ketika yang satu maju, lainnya mundur teratur. Yang satu lagi galak, lainnya mengalah. Tetapi dalam pasangan – pasangan yang berpisah saya melihat seolah fenomena tsunami terjadi setiap saat. Apa iya, sesering itu tsunami?

Saya juga tidak berani berpanjang lebar memberikan bahasan tentang penikahan dan perpisahan. Kecuali saya sendiri sudah punya sertifikat ‘abadi’ till death due us part atau ilmu yang khatam tentang pernikahan. Tetapi saya percaya tentang fenomena pergerakan ombak di kehidupan. Ada kalanya komunikasi pasang – surut. Ada kalanya materi pasang – surut. Ada kalanya kegembiraan pasang – surut. Ada kalanya keberuntungan pasang – surut. Jangan lupa kebahagiaan Anda dengan siapapun itu, istri ke 1, 7 atau suami ke 5, pasti akan ada pasang – surutnya juga. Demikian pula perihal apa yang telah Anda lakukan pada pasangan Anda, orang yang katanya pernah Anda cintai. Berhati – hatilah pada pasang – surutnya! Seolah Anda bahagia dengan pasangan baru Anda. Iya, … hari ini! Tapi bagaimana esok lusa? Setahun dari sekarang? Lima tahun dari sekarang? Lima puluh tahun dari sekarang? Apakah Anda tidak mengamati pergerakan ombak? Pasang – surutnya? Bahwa apa yang Anda lakukan pada seseorang, bisa jadi akan dibalaskan setimpal di kemudian hari? Suami – suami yang Anda kecewakan? Atau istri – istri yang Anda tinggalkan? Terakhir,…bagaimana dengan Anak – anak yang Anda abaikan?

foto: pinterest

Buku Tentang Cara Memelihara Ikan Koi

4 Komen

  1. Sama Mbak, saya juga belum punya sertifikat abadi. Kalo ayah saya mungkin sudah ya, usianya 39 tahun waktu ibu saya meninggal. Sampai sekarang di usianya yang ke-64, beliau masih menduda…

  2. katedrarajawen

    Tekadnya sementara tetap satu kali nikha aja deh, Ci Jo hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published.