Kesetiaan Seorang Bocah

loyalityPutri saya sering mengomentari kawannya sebut saja Livia. Komentarnya berubah-ubah, awalnya ia cukup dekat dengan Livia dan berkisah Livia begini dan begitu. Terakhir dia berkisah lagi Livia itu genit, merasa kalau ada cowok memandang wajahnya pasti cowok itu naksir dan suka pada dirinya. Saya agak geli ingin terpingkal, tapi untuk menghormati putri saya tentu saya mangut – mangut setuju dan berpendapat memang belum tentu cowok memandang wajahnya langsung naksir. Dalam hati, … bisa jadi ngitung tompel atau jerawatnya… Wadooow! Pokoknya sebagai ibu yang baik saya pandang ia berubah sikap tidak lagi akrab dengan Livia karena menurutnya terlalu kepedean abis dan genit. Sah saja punya pendapat pribadi begitu. Ya, mau gimana. Mami sih kenal orang genit tiga truk, mami diemin aja, … entar juga kempesss sendiri!

Nah, beberapa hari lalu kisahnya berubah. “Mi, nanti liburan sekolah aku mau ke Ancol yah? Diajakin oleh Livia!” Sungut saya berdiri mendengar statement ini. Kayaknya tempo hari sebel sama Livia, kok sekarang mau jalan bareng. Ada apa gerangan? “Lho, bukannya tempo hari kamu udah nggak suka banget sama Livia? Kan kamu bilang dia itu sekarang genit dan kepedean abis. Berasa idola sejuta cowok di sekolah? Kok sekarang berteman lagi? Emangnya yang diajak jalan sama Livia siapa saja?” Dengan senyum dimanis-manisin ia menjawab, “Yang diajak cuma aku dan Jenny.” Saya bingung melihat sikapnya, “Lho, kok cuma bertiga saja? Teman lain ngga diajak? Bagaimana dengan sahabatmu, Venna?” Putri saya menggeleng, “Yang diajak hanya aku dan Jenny. Nanti mobil sebagai angkutan ke Ancol semua yang antar Livia dan keluarganya.”

Wah, bau – bau pengkhianatan nih! Mulailah saya memberinya wejangan panjang lebar. Bahwa sikap seperti itu tak baik, tak pantas dan mencla – mencle. Intinya nggak ada kesetiaan. Asal siapa yang ‘membeli’ atau memberikan kenikmatan langsung saja diubahkan menjadi teman sejati. Walaupun tadinya sempat memusuhi dan kurang suka. Sifat manusia yang sangat mendasar sesungguhnya. Bahkan seorang bocah seperti putri saya bisa mengerti bahwa, “Itu tidak benar. Itu tidak setia. Tetapi SAYA mendapat keuntungan…” Tapi benar juga sih, dapat keuntungan mengapa harus ditolak? Ya kalau skala kecil seperti putri saya hanya diajak bermain bersama kawan – kawannya ke Ancol, tapi bagaimana kalau iming – imingnya rumah, uang atau jabatan? Waduh? Nggak mungkin tidak ada timbal – balik besar yang tidak diharapkan dari kita. Jadi sampai dimana sebaiknya kesetiaan kita? Masakan model kesetiaan seorang bocah? Asal dapat enaknya, manisnya dan madunya, ambil. Kalau lagi nggak suka, nggak enak atau sebal, dijelek-jelekkan saja!

Saya rasa kisah putri saya menjadi refleksi kecil bagaimana manusia kerapkali bersikap. Semata hanya demi keuntungan. Hal yang wajar juga. Hanya saja sebaiknya mencari keuntungan jangan jadi tujuan yang paling mendasar, hingga melupakan norma-norma dan paling parah hingga kehilangan harga diri. Mencari keuntungan boleh-boleh saja tapi jangan lalu jadi tidak memiliki sikap, tidak konsisten dan pikiran mudah membolak – balik atau terombang – ambing. Mencari gelombang yang akan mendaparkannya di pantai kemakmuran. Bagaimana jika tidak ada pantai kemakmuran dan semua pantai dipenuhi sampah? Kesetiaan atau loyalitas barangkali memang barang yang mahal di jaman sekarang. Ada baiknya diberi label, kesetiaan 20 karat atau 24 karat?

foto: www.tentaclechris.com

Buku Tentang Cara Memelihara Ikan Koi

One comment

  1. katedrarajawen

    Menurut saya hal ini bisa terjadi tanpa kita sadari bahwa ada pengajaran kita sejak kecil untuk tidak setia menggodanya dengan iming2. MIsalnya anak lagi ngambek, kita iming2i dengan membelikan sesuatu, itu kan sama dengan disuap ya, Ci

Leave a Reply

Your email address will not be published.