Kisah Maryati Nan Pilu

time passAda tetangga sebut saja Maryati. Sebenarnya saya tidak mengenal dekat, tetapi karena kami tergabung dalam satu perkumpulan di RT lambat laun kenal dengan sosoknya. Apalagi Bu RT kerap membicarakan tentang Maryati. Ada beban di hati ketika saya melihat Maryati. Merasa sangat sedih dan ingin bertanya pada Tuhan. Mengapa Engkau tidak adil pada Maryati? Mengapa Tuhan? Sampai sekarang saya tidak dapat menemukan jawabannya. Mungkin kembali pada fakta bahwa sesungguhnya saya juga tak mengenal Maryati dengan cukup baik. Tidak meluangkan waktu, dan jujur ada bagian dari diri yang tidak dapat menerima mengapa ada seorang gadis yang ditakdirkan hidup seperti itu.

Maryati berusia sekitar pertengahan tiga puluh tahun. Sedikit memiliki keterbatasan, ia tak dapat berjalan dengan baik. Misalkan seseorang dapat berjalan sejauh dua puluh meter dalam waktu satu menit, maka Maryati hanya mampu berjalan sejauh tiga hingga lima meter. Entah, apakah polio atau hal lain tak jelas. Saya juga tak bertanya. Tak hanya itu, ia juga sulit berbicara. Ucapan yang keluar dari mulutnya sengau. Lagi – lagi saya tak tahu apakah sakit ketika kecil atau bawaan sejak lahir? Pokoknya kadang – kadang ia mampir ke rumah kami untuk berjualan. White coffee, gorengan atau kue – kue kering. Dengan langkahnya yang tertatih, ia berjalan kesana – kemari. Dan dengan suaranya yang sengau lirih ia menanyakan “Bu, apakah mau beli dagangan saya?” Suami biasanya selalu membeli kopi dan diberikan pada saya. Karena yang minum kopi dirumah hanyalah saya (of course, I write! kalo nggak minum kopi linglung laaa..). Suatu ketika saya pulang kerja dan ia ada didepan rumah. Menawarkan dagangannya. Hari itu saya lelah sekali dan gorengannya kurang menarik sehingga saya tolak dan tidak membeli apapun. Hingga hari ini saya merasa berdosa karena tak membeli gorengannya hari itu..  

Kisah berlanjut, tak berapa lama ia terjatuh. Entah dimana. Yang pasti lengannya terkilir. Dan karena tergolong keluarga tak mampu, ia hanya berobat pada pengobatan alternatif. Langkahnya makin sulit dan tertatih. Ia tak lagi mampu berdagang. Mulai banyak menghabiskan waktu dirumah saja. Tak lama kemudian kakak wanita yang tinggal serumah dengannya meninggal karena kanker payudara akut. Ia tinggal dengan ayahnya yang sudah sepuh. Beberapa tahun berlalu keadaan lengannya tak sembuh total, malah seluruh kondisi tubuhnya kian lemah. Tak lama kemudian ayahnya juga meninggal dunia.

Dirumah itu Maryati lalu tinggal seorang diri. Dalam keadaan tak mampu bergerak. Hanya tidur saja di kasur, tanpa siapapun yang menemani. Kabarnya ada saudara – saudara yang lain, tapi tak satupun yang mau mengurusnya dengan baik. Bu RT dan warga lainnya kesal, jadilah ia diurus oleh warga secara serabutan. Menjadi misteri dan tanya mengapa saudara – saudaranya yang lain tak mau mengurusnya? Tapi warga memang sudah kompak dan berniat baik. Semua menolong walau dengan keluhan yang sama, tak tahan dengan kotoran dan air seninya yang tercecer di kasur. Maryati sendiri kabarnya sedikit rewel dan banyak merengek. Kadang pakaiannya seminggu tidak ada yang mencuci. Entah bagaimana pula ia makan? Siapa yang menyuapi?

Bu RT terus mengeluhkan keadaan Maryati. Segenap warga berusaha maksimal, namun masing – masing ada keluarga sendiri. Belum lagi harus mengeluarkan biaya untuk mengurus segala tetek bengek Maryati. Termasuk mencarikan pembantu. Itupun tak ada yang tahan karena kotoran yang harus dibersihkan oleh mereka. Maryati juga harus dimandikan. Kadang ia hanya mandi sekali seminggu, jika ada warga atau sukarelawan yang mau memandikannya. Saya tak tahu berapa lama Maryati hidup dengan cara ditolong orang serabutan semacam itu. Yang pasti Bu RT mengkhawatirkannya karena siang hari Maryati benar – benar seorang diri terkapar dirumah, mengenakan pampers yang penuh oleh air seninya sendiri. Saudaranya yang lain mengaku bekerja dan baru pulang pada malam hari. Bu RT berkomentar, “Saya saksikan, orang yang terhitung lebih miskin saja di rumah berdinding bambu dalam keadaan sakit keras ada yang menunggui. Ini saya tak mengerti mengapa kerabatnya semua mengacuhkannya..??”

Beberapa minggu lalu, Maryati keadaannya kian memburuk. Dikabarkan muntah – muntah dan keesokan harinya wafat. Meninggal begitu saja. Dalam keadaan kesendirian yang sangat mencekam. Tentu detik – detik meninggalnya mungkin ada yang menunggui. Tetapi proses ke arah sana bagi seorang wanita yang takdir hidupnya begitu memelas, hati saya merasa sangat pilu. Tadi saya meliwati rumah Maryati, awalnya terlihat gelap dan muram. Ada jemuran pakaian bergantungan di halaman rumahnya. Saya pikir rumah itu tak berpenghuni. Ternyata ketika saya lewat kembali arah balik, lampu sudah menyala dan ada orang yang masih menetap disitu. Mungkin saudaranya yang mengaku harus bekerja dan pulang malam setiap hari.

Hidup harus bermakna. Ketika tanpa kita sadari kehidupan liwat hanya dalam sekejap mata. Siapa yang akan mengenang? Setidaknya saya berusaha mengenang Maryati sebagai salah satu cermin kehidupan. Maka ketika saya melihat wanita yang sempurna fisik, cantik, seksi, glamor dan mengandalkan ‘keberuntungan’, saya hanya mampu berbisik dalam hati,…”Seandainya hidup adalah menjadi seorang Maryati, bagaimana cara melakoninya? Dimana peruntungannya??..” Minggu depan adalah peringatan 40 hari wafatnya Maryati,..

foto: philipchircop.com

Buku Tentang Cara Memelihara Ikan Koi

Leave a Reply

Your email address will not be published.